|
|
 |
Sunday, July 03, 2005
Mohon Maaf Cintaku Sederhana
kepada Dita
Tidak ada ikatan dalam hubungan kami, namun pergantian musim
telah mempengaruhi sesuatu. Hingga kami bersama memainkan perasaan,
menepati janji dan saling peduli.
Kami dibesarkan bersama lingkungan desa, namun ikhtiar mengubah peruntungannya.
Ia meninggalkan keawaman menuju hingar-bingar rimba kota.
Tidak ada penyesalan, tak ada kehilangan. Hanya temanku berkurang satu seorang,
hanya teman, hanya satu. Hingga aku menangis dikemudian hari.
Because I love you ...
(2005)
Posted at 01:41 pm by tirtadisastra
Saturday, July 02, 2005
Ketika ajal tiba
Dan ketika aku mati. Aku berpesan kepada penemu jasadku agar dibersihkan, hingga menyerupai seorang manusia lahir tanpa kotor. Balutkanlah sekadar kafan hingga menutupi tubuhku, dan perkenankanlah aku mendengar adzan untuk yang terakhir kali. Dirikanlah shalat agar kamu mengingat maut. Timbunlah jasadku dengan tanah yang baik tanpa meninggikan permukaan. Dan aku akan berterima kasih dengan angin yang menyapa.
(2004)
Posted at 01:32 pm by tirtadisastra
Saturday, May 07, 2005
Sahabat : Sigit, Dhani, Nugraha
Selalu kuingat Ketika kau antar sekolah Ketika aku pulang lelah Meski kau padat
Disaat aku bimbang Kau menghampiriku Ketika kau matang Aku melengkapimu
Aku akan setia menantimu Karena hidup dan matiku Kutitipkan kepadamu [antar kota dalam propinsi]
(2003)
Posted at 01:03 pm by tirtadisastra
Monday, May 02, 2005
Tragedi, Cinta, dan Monyet
: Santi, Eka, dan Putri
Salamin aku dong!
lam
sa
lam
sa
lam
sa
lam
Akan aku tembak dia!
bak
tem
bak
tem
bak
Bersedia, siap, ya … Tembak!
cin
ta
cin
ta
cinta,
ta
cin
ta
BRUTUS :
- Sakit hati,
- Frustasi, dan
- Ingin mati.
(2002)
Posted at 01:16 pm by tirtadisastra
Sunday, May 01, 2005
Semoga Bulan Merindu Punguk
Bodoh, tak tau permukaan bulan berlubang
hingga aku jatuh, cinta pada senior
adalah aku tak lebih, beda dari
seekor punguk merindu bulan
semoga astronot berkenan membawa punguk
walau sekadar bahan eksperimen
seperti anjing Laika yang berhasil mendekatimu
Pfs (2003)
Posted at 06:19 pm by tirtadisastra
Monday, April 25, 2005
Kupu-kupu Dibalik Kaca
Sekuat tenaga menabrak kata,
melihat bunga diluar sana.
(2005)
Posted at 10:15 pm by tirtadisastra
Monday, April 11, 2005
Takutku Bukti Cinta Kepadamu kepada Dita
Aku takut jika cinta hanya berakhir duka. Hingga aku memilih jalan sungai mengalir menuju hakikat samudra.
Maaf cintaku sederhana. Sebagai sungai mengalir apa adanya. Tapi setulus hati aku mencintaimu ... Sudikah engkau mengalir seperti aku?
(2004)
Posted at 11:54 pm by tirtadisastra
Friday, March 25, 2005
Bola (Joko Pinurbo)
Permainan sudah selesai. Perburuan tak akan usai.
Kostum, bendera, spanduk bertebaran di pinggir arena.
Ribuan penonton telah pulang meninggalkan stadion,
tempat yang kalah dan yang menang bertukar celana.
Maafkan kami yang tak juga paham rahasia bola.
Di tengah lapangan Maradona masih menari di atas bola:
bulatan nasib yang selembut doa; buntalan daging
yang membalut kandungan bunda, tempat janin kudus
mengarungi hari-hari agung penciptaan; puisi pengembara
yang ditenun dari benang-benang aksara.
Aku ingin masuk ke dalam bola, ingin meringkuk di sana.
(2004)
Posted at 11:12 pm by tirtadisastra
Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma Yogyakarta. Buku puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Trouser Doll (2002), dan Telepon Genggam (2003). Pernah menerima beberapa penghargaan sastra. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Kumpulan puisi terbarunya, Kekasihku.
Posted at 10:45 pm by tirtadisastra
|